6 Perbedaan Mendasar Saham dan Obligasi untuk Investasi

Artikel ini terakhir di perbaharui May 20, 2021 by Akhmad Zico Fadlansyah
6 Perbedaan Mendasar Saham dan Obligasi untuk Investasi

Saham dan obligasi merupakan dua produk instrumen investasi yang digandrungi banyak orang. Kendati sama-sama menjadi pilihan dalam berinvestasi, namun keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Keduanya juga memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, tergantung dengan kondisi dan kebutuhan Anda.

Investasi sendiri merupakan salah satu cara terbaik untuk melindungi uang Anda dari inflasi. Pasalnya, menabung saja tidak akan membawa keuntungan yang berarti. Menanamkan uang dalam bentuk investasi akan memberikan keuntungan tambahan, bahkan bisa dijadikan sebagai passive income. Jika Anda tertarik untuk segera memulai investasi serta ingin tahu lebih banyak mengenai saham dan obligasi, simak ulasan tentang perbedaan saham dan obligasi berikut.

Pengertian Saham dan Obligasi

Perbedaan saham dan obligasi yang paling mendasar terletak pada definisinya. Secara garis besar, saham adalah aset kepemilikan sebuah perusahaan, sedangkan obligasi adalah surat utang yang bisa dibeli. Maka dari itu, saat Anda membeli saham, berarti Anda memiliki sekian persen kepemilikan perusahaan tersebut. Hal ini menjadikan Anda sebagai penanam modal.

Sementara obligasi menjadikan Anda sebagai pihak yang meminjamkan uang, nantinya utang akan dibayarkan kembali beserta dengan bunga atau kupon. Obligasi juga memiliki tanggal jatuh tempo yang jelas, sehingga jumlah uang yang Anda keluarkan terjamin akan dibayar kembali. Selain itu, saham hanya bisa dikeluarkan oleh Perusahaan Terbuka (Tbk.), sedangkan obligasi mampu dikeluarkan oleh perusahaan dan badan pemerintah manapun.

Beberapa contoh investasi saham terkenal yang mungkin Anda kenal, seperti saham PT Sampoerna, dapat Anda beli melalui pasar saham maupun secara online. Mirip dengan saham, obligasi juga bisa dengan mudah Anda dapatkan melalui bank atau aplikasi online. Ada beberapa jenis saham dan obligasi yang harus Anda ketahui terlebih dulu sebelum membeli.

Jenis Saham dan Obligasi

Saham dibagi menjadi dua jenis, yakni saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock). Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Perlu diingat juga bahwa semakin besar keuntungan yang didapat, semakin tinggi juga risiko yang perlu dihadapi.

Pemegang saham biasa memiliki hak suara dan dapat mengungkapkan pendapat mengenai operasional perusahaan. Namun, pemegang saham biasa hanya akan mendapatkan keuntungan jika perusahaan juga mendapatkan laba. Kebalikan dari saham biasa, pemegang saham preferen tidak memiliki hak suara dalam perusahaan.

Secara umum, saham preferen memiliki karakteristik gabungan dari saham biasa dan obligasi. Dalam pembagian keuntungan, pemegang saham preferen akan didahulukan dan menerima dividen berdasarkan tingkat yang sudah disepakati sebelumnya.

Untuk obligasi, terdapat obligasi dengan jaminan (secured bonds) dan obligasi tanpa jaminan (unsecured bonds). Sesuai dengan namanya, perusahaan yang mengeluarkan obligasi ini akan menggunakan beberapa asetnya sebagai jaminan pembayaran utang.

Apabila perusahaan gagal melunaskan utang, pemegang obligasi berhak untuk mengklaim jaminan tersebut. Contoh dari obligasi ini adalah obligasi dengan garansi, jaminan harta, jaminan efek, dan jaminan peralatan. Sementara obligasi tanpa jaminan dikeluarkan atas dasar kepercayaan tanpa adanya jaminan atau garansi.

Beberapa contoh di antaranya adalah obligasi pemerintah (debenture bonds) dan subordinate bonds. Obligasi juga bisa dikategorikan kembali berdasarkan segi peralihan, nilai bunga, penerbit, dan waktu jatuh tempo.

Indeks Saham

Di dalam dunia saham, ada yang namanya indeks saham. Indeks saham adalah harga rata-rata dari semua harga saham yang telah terdaftar di dalam bursa. Di Indonesia sendiri, ada beberapa jenis indek saham, seperti IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), Nikkei, dan Hangseng. Salah satu aplikasi investasi, GICTrade juga memiliki fitur trading saham. Khusus untuk GICTrade, Anda bisa melakukan trading saham Nikkei dan Hangseng.

Risiko dan Keuntungan

Tentunya Anda ingin melakukan investasi yang aman dan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Namun, semua tergantung pada jenis investasi seperti apa yang Anda ambil. Perbedaan saham dan obligasi lainnya adalah risiko serta keuntungan yang didapatkan. Dalam segi risiko, saham adalah jenis investasi yang lebih menantang karena keuntungan yang didapat benar-benar tergantung pada laba perusahaan.

Maka dari itu, Anda harus memikirkan strategi terbaik dan mempertimbangkan potensi perusahaan sebelum membeli saham. Walaupun risiko yang ditanggung cenderung tinggi, Anda juga dapat meraup keuntungan yang tinggi apabila perusahaan tersebut sedang berjaya. Jadi, saat Anda membeli saham perusahaan yang memiliki laba tinggi, Anda pun mendapatkan keuntungan besar sesuai dengan besarnya saham yang dimiliki.

Terlebih lagi, harga saham juga terpengaruh oleh kondisi ekonomi mikro dan makro. Ada banyak faktor yang tidak bisa dikontrol, sehingga harga saham dapat berubah-ubah setiap harinya. Keadaan ekonomi negara juga menjadi salah satu faktor utama dari perubahan harga saham.

Tidak seperti saham, obligasi tidak bersifat fluktuatif. Artinya, keuntungan yang didapat akan selalu sama setiap bulan. Tetapi, besar keuntungan yang didapat juga dipengaruhi oleh inflasi serta bunga yang Anda dapat. Laba atau rugi perusahaan atau badan pemerintah tidak menjadi faktor dari keuntungan obligasi karena sifatnya sebagai utang. Pemegang obligasi juga diutamakan dalam pembayaran.

Dari sini, bisa disimpulkan bahwa saham bersifat high risk dan high return, cocok bagi Anda yang percaya diri dalam melakukan investasi. Sedangkan bagi pemula, disarankan untuk membeli obligasi karena sifatnya yang low risk dan low return.

Jangka Waktu

Jika Anda ingin investasi yang memiliki jangka waktu tidak terbatas, maka saham adalah pilihan yang tepat bagi Anda. Selama perusahaan masih berjalan, Anda masih memiliki wewenang dan hak atas keuntungan sebagai pemegang saham. Di sisi lain, obligasi yang bersifat sebagai surat utang, memiliki jangka waktu terbatas. Jangka waktu ini adalah tanggal jatuh tempo utang harus dibayar oleh perusahaan atau badan pemerintah.

Adanya jangka waktu ini akan menjamin pemegang obligasi untuk mendapatkan keuntungan yang stabil. Bila perusahaan mengalami kebangkrutan atau mengalami masalah finansial, pemegang obligasi tidak perlu khawatir akan mengalami kerugian. Tetapi, tentu saja pemegang obligasi tidak memiliki hak pembayaran selamanya karena terdapat tanggal jatuh tempo.

Bagi pemegang saham, keuntungan akan terus mengalir selama perusahaan tidak bangkrut dan perusahaan mengalami laba. Oleh sebab itu, saham adalah pilihan yang bisa Anda pertimbangkan jika sedang mencari investasi jangka panjang. Obligasi cocok bila Anda ingin terjun dalam investasi jangka pendek.

Likuidasi

Dalam setiap bisnis, akan selalu ada risiko terjadinya kebangkrutan. Tidak terkecuali juga dalam investasi, Anda harus ikut mempertimbangkan apa yang akan terjadi bila perusahaan saham atau obligasi tiba-tiba bangkrut. Bagi pemegang saham, kebangkrutan perusahaan menandakan kerugian yang cukup besar. Perusahaan hanya akan membayarkan laba terakhir dan saham yang dimiliki tidak akan berarti lagi.

Obligasi merupakan opsi yang lebih aman dalam segi likuidasi. Pemegang obligasi akan diutamakan dan tetap menerima pembayaran utang sesuai dengan nominal yang telah disepakati. Apabila perusahaan tidak mampu untuk membayar utang, perusahaan tetap diwajibkan untuk membayar dengan cara menjual aset yang tersisa. Jika Anda memiliki obligasi dengan jaminan, Anda pun berhak untuk mengklaim aset seperti tanah dan gedung, sesuai dengan yang sudah disepakati di awal.

Sistem Pajak

Terakhir, perbedaan saham dan obligasi bisa dilihat dari segi perpajakan. Dividen perusahaan yang dibayarkan kepada para pemegang saham sudah dikenakan pajak. Tercantum dalam PPh pasal 4 ayat 2, investasi saham dikenakan pajak sebesar 0.1% dari nilai bruto transaksi penjualan. Sementara bunga dari obligasi yang diterima dikeluarkan sebagai biaya dan tidak dikenakan pajak.

Menurut PP 16 tahun 2009 tentang PPh atas Bunga Obligasi bersifat final, dikenakan 15% pemotongan pajak terhadap pembayaran obligasi saat jatuh tempo. Apabila Anda lebih tertarik dengan saham yang sudah dikenakan pajak, saham bisa jadi prioritas investasi Anda.

Keenam perbedaan saham dan obligasi yang sudah dijelaskan di atas bisa jadi pertimbangan bagi Anda yang ingin memulai investasi atau sedang mencari produk investasi tambahan. Apapun itu pilihan investasi Anda, jangan lupa untuk terus belajar dan mencari tahu tentang info yang akan berguna bagi kesuksesan investasi. Percayakan investasi Anda dengan badan maupun aplikasi yang sudah diawasi OJK.

Kunjungi GIC Indonesia untuk mendapatkan informasi seputar dunia trading. Anda juga bisa bergabung bersama kami di dalam Telegram Community GIC Trade dan Telegram Channel GIC Trade. Jangan lupa check akun Youtube GIC Indonesia yang penuh dengan banyak informasi, serta follow akun Instagram Kami untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai webinar menarik yang bisa Anda ikuti.

Desi Novitasari
Knowledge is like a garden, if not cultivated, it cannot be harvested.