Indikator Moving Average: Definisi, Jenis & Cara Menggunakan

Artikel ini terakhir di perbaharui May 19, 2021 by Akhmad Zico Fadlansyah
Indikator Moving Average: Definisi, Jenis & Cara Menggunakan

Dalam melakukan trading forex, ada begitu banyak komponen dan rentetan data yang harus diperhatikan untuk melihat serta memperkirakan tren harga mata uang. Tentu saja ini sangat berguna untuk Anda agar bisa menentukan langkah trading yang tepat dan mendapatkan keuntungan. Salah satunya yang harus Anda waspadai adalah Indikator Moving Average.

Tidak hanya berguna sebagai pedoman saja, tetapi indikator moving average forex juga bisa Anda gunakan sebagai strategi meraup keuntungan. Berikut ulasan lengkapnya.

Apa itu Indikator Moving Average?

Saat Anda pertama kali terjun ke dunia forex, Anda akan melihat sebuah garis yang menggambarkan pergerakan harga sebuah mata uang. Garis inilah yang disebut dengan indikator moving average. Indikator teknikal ini dianggap paling sederhana dan mudah untuk dijadikan alat analisis fluktuasi harga atau nilai tukar sebuah pasangan mata uang.

Perlu diketahui bahwa indikator moving average mengikuti tren dan memuat harga yang memang sudah ditetapkan. Bila Anda mengatur indikator ini dengan jangka waktu yang panjang, maka pergerakannya akan melambat. Indikator moving average sendiri memuat data berdasarkan nilai rata-rata dari harga tertinggi dan terendah, harga buka dan tutup transaksi, serta harga tengah (median) sebuah pasangan mata uang.

Dengan melihat indikator moving average, Anda bisa menganalisis tren pasar forex lebih cepat lagi. Saat harga berada di bawah garis indikator, berarti terjadi penurunan atau yang biasa disebut dengan istilah bearish. Sementara itu, bila harga berada di atas jangkauan garis indikator, maka terjadi peningkatan harga atau dikenal dengan istilah bullish.

Garis pada indikator moving average berperan sebagai support ketika pergerakan harga terjadi di atas garis. Begitu pun sebaliknya, garis Moving Average Indicator berperan sebagai resistance saat pergerakan harga terjadi di bawah garis. Dari observasi pergerakan harga dengan indikator moving average sebagai patokan, Anda juga bisa menentukan waktu yang tepat untuk membeli atau menjual. Perhatikan titik temu dari dua garis pasangan mata uang.

Waktu yang tepat untuk melakukan pembelian adalah saat garis pada indikator berperiode rendah bergerak ke atas melintasi garis yang berperiode lebih tinggi. Ketika garis indikator pada periode pendek bertemu kembali dengan garis berperiode tinggi dalam dari arah atas ke bawah, maka inilah waktu yang tepat untuk menjual.

Jenis Indikator Moving Average

Sebelum akhirnya memahami strategi menggunakan indikator moving average dalam trading forex demi melebarkan peluang untung, Anda perlu tahu lebih lanjut jenis-jenis indikator moving average yang ada di dalam dunia forex. Masing-masing jenis memiliki karakteristik dan cara kerja yang berbeda, sehingga bisa Anda sesuaikan dengan preferensi pribadi.

  • Simple Moving Average

Jenis ini merupakan yang paling populer dan sering digunakan. Sesuai dengan namanya, penggunaannya begitu mudah. Data yang didapat dari Simple Moving Average adalah dengan mengakumulasi total harga mata uang selama satu periode, lalu dibagi dengan jumlah periode waktunya.

Simple Moving Average untuk periode 200 hari atau disebut SMA-200 Day merupakan contoh yang digunakan sebagai acuan oleh banyak traders, bahkan oleh bank-bank ternama. Hal ini dikarenakan kemampuannya untuk memperlihatkan fluktuasi harga yang signifikan dalam tren jangka panjang.

  • Exponential Moving Average

Berbeda dengan Simple Moving Average, jenis indikator yang satu ini dianggap lebih relevan apabila Anda ingin melihat pergerakan harga terbaru karena sifatnya yang responsif. Cara perhitungannya sedikit lebih rumit, yakni dengan menghitung Simple Moving Average Indicator dan ditambahkan dengan multiplier.

Cara menghitung multiplier adalah dengan rumus [2/(jumlah periode + 1)]. Sebagai contoh, besar multiplier dari EMA-20 Day adalah 9.52%, berdasarkan hasil perhitungan dengan rumus tersebut. Hal ini menandakan bahwa multiplier dari Exponential Moving Average berperiode pendek akan selalu lebih besar bila dibandingkan dengan Exponential Moving Average berperiode lebih panjang.

  • Linear Weighted Moving Average

Apabila Simple Moving Average biasanya digunakan sebagai pedoman menentukan support atau resistance sebuah pasangan mata uang dan Exponential Moving Average digunakan untuk melihat crossover harga pasangan mata uang, maka muncul Linear Weighted Moving Average sebagai pilihan alternatif bagi Anda.

Indikator ini bisa digunakan untuk menentukan perkembangan tren pasar. Cara kerjanya juga cukup rumit, menjumlahkan seluruh harga tutup transaksi, lalu dikalikan dengan titik data di garis, dan akhirnya dibagi dengan jumlah periode yang ditentukan.

Jika dibandingkan dengan kedua indikator sebelumnya, bisa disimpulkan bahwa Linear Weighted Moving Average bergerak sama cepatnya dengan Exponential Moving Average, di mana Simple Moving Average terbukti sebagai garis yang paling kurang responsif.

Cara Menggunakan Indikator Moving Average

Mengetahui kemampuan, kelebihan, serta cara kerja dari setiap jenis indikator moving average forex ternyata sangat berguna bagi setiap traders. Pasalnya, pengetahuan ini bisa dimanfaatkan untuk membentuk strategi trading forex yang menguntungkan. Anda tidak perlu pusing memutar otak untuk mencari strategi baru, berikut ringkasan tiga strategi menggunakan indikator moving average yang bisa Anda andalkan.

  • Tren Filter

Untuk mengoptimalkan strategi yang satu ini, Anda perlu memasang sebuah indikator momentum untuk menentukan waktu entry yang tepat. Satu rekomendasi indikator momentum yang bisa Anda gunakan adalah Commodity Channel Index (CCI). Perhatikan arah pergerakan harga dengan indikator moving average.

Saat harga bergerak ke atas melewati garis tren, maka Anda bisa bersiap untuk melakukan open posisi beli (buy). Bila harga bergerak turun ke bawah kurva, Anda bisa segera melakukan penjualan (sell). Gunakan CCI sebagai penentu kapan harus membeli dan menjual. Contohnya, bila CCI menyentuh titik di atas -100, bisa dipastikan bahwa itu momen yang tepat untuk melakukan pembelian.

  • Open Posisi

Bila Anda ragu kapan harus melakukan open posisi, cara termudah untuk menentukannya adalah dengan strategi ini. Coba perhatikan grafik harga dan garis Moving Average, fokus kepada titik temu keduanya. Jika garis tersebut searah dengan tren harga yang sedang terjadi, maka inilah kesempatan bagi Anda untuk melakukan open posisi. Namun, bila ternyata tidak searah, Anda harus menggunakan strategi ke-3.

  • Identifikasi Crossover

Menggunakan indikator moving average untuk mengidentifikasi crossover adalah strategi yang paling sering digunakan oleh traders di dunia forex. Umumnya, mereka menggunakan kombinasi indikator seperti SMA-20 Day dengan SMA-50 Day, SMA-20 Day dengan SMA-200 Day, atau yang paling populer SMA-50 Day dengan SMA-200 Day. Ada dua istilah dalam strategi ini, yakni death cross dan golden cross. Death cross terjadi apabila garis periode 50 bergerak ke bawah melintasi garis periode 200.

Hal ini menandakan adanya penurunan tren harga menjadi bearish. Sementara golden cross terjadi bila garis periode 50 bertemu dan melewati garis periode 20, menandakan tren harga kembali naik menjadi bullish. Dari dua sinyal ini, Anda bisa menentukan kapan harus menjual dan membeli dengan lebih akurat. Segera lakukan pembelian (buy) saat terjadi golden cross dan lakukan penjualan (sell) bila terjadi death cross.

Kunjungi GIC Indonesia untuk mendapatkan informasi seputar dunia trading. Anda juga bisa bergabung bersama kami di dalam Telegram Community GIC Trade dan Telegram Channel GIC Trade. Jangan lupa check akun Youtube GIC Indonesia yang penuh dengan banyak informasi, serta follow akun Instagram Kami untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai webinar menarik yang bisa Anda ikuti.

Desi Novitasari
Knowledge is like a garden, if not cultivated, it cannot be harvested.