Dolar Bertahan Kuat Karena Inflasi, Imbal Hasil Tinggi

Artikel ini terakhir di perbaharui October 18, 2021 by Rinaldi Syahran
Dolar Bertahan Kuat Karena Inflasi, Imbal Hasil Tinggi
sumber oleh vkstudio cia freepick

Dolar AS dalam berita disebutkan bertahan kuat karena inflasi yang mengakibatkan imbal hasil tinggi. Dolar US menemukan pegangannya, pada hari Senin dikarenakan data ekonomi yang lemah di Cina. Ditambah lagi kenaikan harga minyak yang membuat para investor gelisah akan inflasi yang mendorong suku bunga menjadi lebih tinggi.

Pada sesi Asia, greenback naik sedikit seiring dengan imbal hasil AS untuk menahan penurunan yang sedang di derita pada minggu lalu, dengan kenaikan sekitar 0.2% terhadap euro dan juga sekitar 0.1% terhadap yen yang membawa mata uang jepang mendekati level terendah baru selama tiga tahun ini.

Kiwi yang merupakan outlier, setelah melakukan perlonjakan hampir 0.5% yang menjadikan ke level tertinggi dengan periode waktu satu bulan, pada $0.7105 sebelum turun kembali menjadi datar pada $0.7071 dengan catatan setelah angka inflasi kuartalan tertinggi selama satu dekade.

Selain itu, terdapat sterling yang juga berhasil bertahan hampir stabil setelah pernyataan agresif mereka pada akhir pekan oleh Gubernur Bank of England, Andrew Bailey yang mengatakan pembuat kebijakan “harus bertindak” karena harga energi yang mendorong harga konsumen untuk lebih tinggi.

Pertumbuhan ekonomi China mencapai laju paling lambat dalam satu tahun pada kaurtal ketiga. Data ini menunjukkan kekurangan listrik yang menghambat produksi pabrik, pada hari Senin. Sementara pada komoditas, harga minyak mentah naik lebih dari 1% dengan menguji level tertinggi pada 2018.

Dengan adanya data tersebut juga memberikan pernyataan bahwa nilai mata uang Yuan menjadi sedikit melemah. Namun, secara bersama-sama, perlambatan Cina, krisis listrik da tanda-tanda di di seluruh dunia bahwa tekanan dari biaya energi sedang merugikan. Yang menjadikan para investor untuk berhati-hati dikarenakan mereka yang bersiap untuk periode yang bergelombang.

“Untuk beberapa waktu, argumen utama kami bertumpu pada dua faktor yang datang bersama untuk mendukung dolar itu sendiri yaitu, moderasi dalam pertumbuhan global, dan FED yang mengambil jalur bertahap yang pada akhirnya akan menuju kenaikan suku bunga” Kata analis HSBC dalam sebuah catatannya.

“Ini terjadi lebih cepat dari yang kita harapkan”

Dolar terakhir dibeli pada 114.35 yen, dengan diperdagangkan pada harga $1.1579 terhadap euro dengan naik sekitar 0.2% pada $0.7402 per dolar Australia. Indeks dolar juga naik 0.1% menjadi 94.102 yang merayap kembali ke level tertinggi selama satu tahun pada minggu lalu di 94.563.

Hasil dari pertemuan Federal Reserve pada bulan September diterbitkan pada hari Rabu, dengan menegaskan ekspektasi pedagang bahwa pusat bank akan mulai mengurangi pembelian aset tahun ini. Hasil menunjukkan bahwa pembuat kebijakan bersiap untuk segera mulai meruncing dan membungkus prosesnya pada pertengahan tahun depan.

Dana FED berjangka dihargai untuk memulai kenaikan dari suku bunga. Segera setelah itu selesai, pasar yang telah bergerak maju dapat menaikkan ekspektasi segera setelah kuartal ketiga atau keempat pada tahun 2022. Sementara imbal hasil Treasury dalam dua tahun melonjak menjadi nilai tertinggi selama 19 bulan pada 0.421%.

Penetapan harga swap juga menunjukkan tekanan yang meningkat secara global dengan hampir 30% dengan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of England pada tahun ini dengan hampir 80 basis poin kenaikan harga hingga 2022.

Sterling bertahan pada $1.3734, dimana tepat di bawah level tertinggi selama satu bulan pada hari Jumat dari $1.3773. Sedangkan di Selandia Baru, di mana harga konsumen naik lebih tinggi pada klip tercepat sejak 2010. Analisis memperhitungkan bank sentral harus tetap berada di jalur pendakiannya meskipun penguncian Auckland diperpanjang.

“Itu hanya memperkuat kasus yang harus mereka patuhi pada jalan itu” Kata analis Westpac Imre Speizer. “Inflasi ini sangat kuat” Speizer melanjutkan.

Bahkan di Australia, di mana bank sentral bersikeras mengharapkan untuk mempertahankan suku bunga hingga 2024. Swap yang menentukan harga kenaikan akan dimulai pada pertengahan 2022 untuk kenaikan 100 bps sebelum 2024 dimulai.

Dengan jadwal kalender yang tenang pada har Senin, para trader menunggu untuk rilisnya “Beige Book” dari FED yang membahas tentang kondisi ekonomi pada hari Rabu serta, mengawasi pasar kredit Cina di mana sejumlah pengembang berutang pembayaran kupon minggu ini. Sekian berita perihal “Dolar Bertahan Kuat Karena Inflasi, Imbal Hasil Tinggi”.

Wachda Mihmii
SEO writer who is experienced in various Indonesian national media. Aspiring to be a book or novel writer. Has experience as a Creative Director.