Obligasi: Pengertian, Jenis, Keuntungan & Perbedaanya dengan Saham

Artikel ini terakhir di perbaharui September 3, 2021 by Akhmad Zico Fadlansyah
Obligasi: Pengertian, Jenis, Keuntungan & Perbedaanya dengan Saham

Perlu, diketahui, ada banyak jenis investasi. Mulai dari menabung, deposito, reksadana, obligasi, saham, forex, emas dan properti. Di antara banyak jenis investasi, obligasi adalah salah satu jenis dari investasi yang bisa kita lakukan. Dalam kesempatan kali ini, akan dibahas apa itu obligasi dan segala hal yang berkaitan dengan obligasi itu sendiri. Yuk, mari kita mulai pembahasannya, dengan menyimak penjelasan dari obligasi itu sendiri.

Apa Itu Obligasi?

Obligasi merupakan istilah dalam pasar modal dan dunia investasi untuk merujuk pada surat pernyataan utang penerbitan obligasi  terhadap pemegang obligasi. Secara sederhana, penerbit obligasi adalah pihak yang berutang dan pemegang obligasi. Kita juga dapat mengartikan bahwa obligasi adalah sistem investasi dengan menggunakan surat menyurat saham.

Jadi, pengertian obligasi adalah hutang piutang dalam perusahaan, yang terkait dengan dana investasi yang diberikan kepada perusahaan, baik oleh perseorangan atau perusahaan pemberi modal. Biasanya, dalam pembelian obligasi adalah persoalan kesepakatan. Akan dituliskan jatuh tempo pembayaran utang beserta dengan bunga, yang menjadi kewajiban penerbit obligasi terhadap pemegang obligasi untuk dibayarkan. Jangka waktu obligasi di Indonesia umumnya berjangka dari 1 hingga 10 tahun. 

Bunga obligasi adalah hal yang umum dalam investasi obligasi, besarannya biasanya diberikan oleh para pemegang obligasi. Selain itu, penerbitan obligasi didasari upaya untuk mengumpulkan dana dari masyarakat yang berfungsi sebagai sumber dana bagi penerbit obligasi. 

Sama seperti saham, obligasi bisa diperjualbelikan. Oleh karena itu, ada sebagian yang beranggapan bahwa obligasi adalah investasi bebas risiko. Bagi yang ingin membeli saham, bisa mencari tahu langsung ke pihak penerbit obligasi, biasanya perusahaan atau bisa juga pemerintahan.

Banyak pengertian dari jenis obligasi, berikut ini akan dirangkum beberapa pengertian dari jenis obligasi, untuk lebih memudahkan kita memahaminya:

  • Obligasi konversi adalah salah satu jenis obligasi yang dapat dikonversikan menjadi saham dari perusahaan penerbit obligasi dengan rasio konversi yang sudah ditentukan.
  • Pasar obligasi adalah tempat diperdagangkannya obligasi saat mulai diterbitkan. Pasar obligasi juga biasa dikenal dengan sebutan pasar primer.
  • Nilai obligasi adalah nilai yang dijanjikan akan dibayar pada saat obligasi jatuh tempo. Nilai obligasi juga bisa dikenal dengan istilah nilai jatuh tempo. Nilai obligasi mewakili nilai nominal, nilai par  (par value) dan nilai tampang (face value).
  • Surat obligasi adalah surat utang-piutang yang diterbitkan. Penerbitan surat utang merupakan sebuah pernyataan bahwa penerbit surat obligasi mengakui berutang pada pemegang obligasi.
  • Disagio obligasi adalah selisih harga beli obligasi di bawah nilai nominal. Sementara itu, Agio obligasi adalah selisih harga beli obligasi di atas nilai nominal
  • Suku bunga obligasi adalah tingkat bunga yang dibayarkan oleh penerbit obligasi kepada pemegang obligasi. Tingkat suku bunga obligasi biasanya diberikan oleh pemegang obligasi atau juga disepakati oleh kedua belah pihak.
  • Obligasi negara adalah adalah Surat Utang Negara  yang berjangka waktu lebih dari 12 bulan. Obligasi negara juga dikenal dengan istilah Obligasi Negara Ritel (ORI).
  • Tenor obligasi adalah jangka waktu atau jatuh tempo obligasi. Waktu yang ditentukan bagi penerbit obligasi untuk membayar kepada pemegang obligasi.
  • Reksadana obligasi adalah jenis reksadana yang berinvestasi pada obligasi atau surat utang, baik dari pemerintah atau dari perusahaan.

Beberapa istilah di atas mungkin akan sering kita jumpai ketika ada pembahasan terkait obligasi. Setelah mengetahui pengertian dari obligasi itu sendiri, mungkin kita masih bingung karena belum mengetahui secara pasti bagaimana cara kerja obligasi. Penjelasan di bawah ini akan menjelaskan terkait bagaimana cara kerja dari obligasi itu sendiri.

Cara Kerja Obligasi

Cara kerja obligasi sudah sempat disinggung pada pembahasan terkait pengertian obligasi di atas. Namun untuk lebih memperjelas lagi, cara kerja obligasi yaitu ketika pemegang surat utang memiliki pilihan untuk mengubah surat utang yang mereka miliki menjadi sebuah saham atau ekuitas. Cara kerja tersebut terjadi pada obligasi konversi, yaitu yang bisa menukar surat utang menjadi saham atau ekuitas sesuai kesepakatan.

Untuk mengetahui cara kerja obligasi, kita juga perlu mengetahui karakteristik obligasi itu sendiri. Berikut ini merupakan daftar karakteristik dari obligasi:

1. Nilai Nominal

Dalam obligasi, kita akan sering mendengar istilah nilai nominal. Nilai nominal merupakan nilai utang pokok yang harus dibayarkan oleh penerbit obligasi saat jatuh tempo. Biasanya, nilai ini tercantum dalam lembar surat obligasi. Pihak penerbit juga harus menjelaskan dan mencantumkan besaran dana yang dibutuhkan. Hal ini dikenal dengan nama jumlah lembar obligasi. Penentuan besaran dana juga didasari oleh cashflow, kebutuhan penerbit itu sendiri, dan kinerja bisnis.

2. Masa Jatuh Tempo

Karakteristik selanjutnya yang harus kita ketahui dari obligasi adalah masa jatuh tempo. Biasanya jatuh tempo obligasi dari 1 tahun hingga 10 tahun. Minimal, dalam 5 tahun rentang waktu yang digunakan untuk jatuh tempo obligasi. Namun, ada pula yang jatuh temponya hingga 15 tahun bahkan 30 tahun.

Namun kebanyakan pemodal lebih menyukai jatuh tempo obligasi dalam jangka pendek. Karena, investasi obligasi adalah investasi yang jauh berbeda dengan investasi saham. Kepastian mendapatkan hasil dalam waktu dekat merupakan pertimbangan utama. Selain itu, pada pemodal juga percaya bahwa obligasi dalam jangka pendek memiliki risiko yang lebih kecil.

Berbeda dengan obligasi pemerintah, karena obligasi pemerintah adalah surat utang yang berkaitan dengan APBN, biasanya jangka waktu telah ditentukan, berdasarkan beberapa periode atau jangka waktu. Namun, perubahan juga bisa terjadi kapanpun dalam obligasi pemerintah. Terutama pada masa pergantian kepemimpinan.

3. Klaim Aset dan Klaim Pendapatan Perusahaan

Jika terjadi hal yang tidak diinginkan, seperti pihak penerbit obligasi yang tidak dapat melunasi utang dan mengalami kebangkrutan, maka satu-satunya cara adalah dengan menjual aset yang dimiliki penerbit. Karena status utang obligasi adalah wajib untuk dibayar, dan pihak yang berutang tidak memiliki pendanaan yang cukup untuk membayar, menjual aset adalah cara yang tepat.

Setelah pihak penerbit obligasi menjual aset yang dimiliki dan diberikan kepada pemegang obligasi, maka pemegang obligasi wajib melakukan klaim aset. Sementara itu, klaim terhadap pendapatan perusahaan bisa diberikan kepada pemegang obligasi yang bertujuan untuk dapat melunasi utang.

Kondisi ini seringkali dijumpai, beberapa faktor penyebab terjadinya hal seperti di atas adalah karena perusahaan sebagai penerbit obligasi tidak mampu mencapai target dan kemudian gagal bayar. Pembayaran pun sudah termasuk dengan bunga obligasi. Walaupun tingkat bunga obligasi adalah fleksibel, bisa didiskusikan. Namun, pembayaran merupakan hal yang mutlak harus dilakukan.

4. Tingkat Bunga

Karakteristik obligasi selanjutnya adalah tingkat bunga, atau yang juga dikenal dengan istilah coupon rate. Ketika kita memegang obligasi, kita akan mendapatkan kupon dari penerbit. Kupon ini diberikan dengan waktu yang berbeda-beda, sesuai kesepakatan. Bisa diberikan setiap 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, bahkan setahun. Besaran kupon juga ditentukan di awal perjanjian obligasi.

5. Indenture (Kontrak)

Karakteristik dari obligasi selanjutnya adalah indenture atau kontrak yang terjadi antara penerbit obligasi dengan wakil pemegang obligasi (wali amanat). Kontrak ini berisi segala hal tentang hak dan kewajiban dari penerbit dan pemegang obligasi. Tertera juga ketentuan-ketentuan dan batasan-batasan yang disusun bersama untuk melindungi kita sebagai pemegang obligasi.

Ketentuan dan batasan yang tercantum misalkan seperti larangan pembelian atau penjualan aset tetap perusahaan, larangan penjualan piutang perusahaan, batasan penarikan pinjaman tambahan, dan batasan pembayaran dividen. Secara sederhana, kita dapat indenture atau kontrak merupakan sebagai sebuah hak dan kewajiban, serta larangan dan batasan yang harus ditaati bersama selama obligasi berlangsung.

6. Current Yield

Current Yield adalah keuntungan dari bunga yang diterima oleh pemegang obligasi selama satu tahun terhadap harga obligasi. Current yield juga dihitung berdasarkan bunga tahunan terdapat harga obligasi. Hasil yang didapatkan nantinya akan berupa persentase (%). Selain current yield, ada juga yang dikenal dengan naman yield to maturity. Yaitu tingkat pengembalian yang akan kita terima sebagai pemegang obligasi hingga pada masa jatuh tempo terjadi. Yield to maturity juga akan mengubah hitungan persentase

7. Rating (Peringkat)

Karakteristik terakhir dari obligasi yang akan membuat kita paham bagaimana cara kerja obligasi adalah rating atau peringkat. Sama seperti dalam saham atau investasi lainnya, dalam obligasi juga terdapat peringkat yang menggambarkan tingkat risiko obligasi itu sendiri. Rating dari obligasi disampaikan dalam dua atau tiga huruf yang disertai simbol atau angka. Misalnya, rating AAA, AA+, AA-, BBB+ dan lain sebagainya.

Semakin tinggi rating, akan semakin rendah bunga yang tiwarkan dan risikonya juga semakin kecil. Penentuan peringkat dilakukan oleh lembaga rating (pemeringkat). Terdapat beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi rating. Di antaranya adalah profit perusahaan, tingkat kepastian pendapatan, proporsi modal terhadap utang, cakupan perusahaan, dan lain sebagainya.

Dari ketujuh karakteristik obligasi di atas, kita bisa jadi lebih paham bagaimana obligasi bekerja. Agar lebih paham lagi, kita juga wajib mengetahui jenis-jenis dari obligasi. Terdapat beberapa jenis obligasi, yang dari masing-masing jenis tersebut memiliki perbedaan yang spesifik. Yuk, mari kita lanjut pembahasannya! 

Press-Release

Jenis-Jenis Obligasi

Terdapat beberapa jenis obligasi, yang dibagi berdasarkan beberapa tolok ukur yang digunakan. Dalam penjelasan ini, akan dijelaskan jenis-jenis obligasi berdasarkan tolok ukur yang berbedal. Tolok ukur yang dimaksud adalah dari sisi penerbit obligasi, sistem pembayaran bunga, hak penukaran, jaminannya, nilai nominal dan lain sebagainya. Lengkapnya terkait jenis obligasi adalah:

1. Jenis Obligasi Secara Umum

Secara umum, jenis obligasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

  • Obligasi Konvensional: yaitu obligasi dengan surat utang yang mempunyai nilai nominal besar, di atas Rp 1 Miliar per lot.
  • Obligasi Ritel: yaitu obligasi dengan surat hutang yang mempunyai nilai nominal kecil, dimulai dari Rp 1 juta per lot

2. Jenis Obligasi Berdasarkan Penerbitnya

Terdapat juga obligasi berdasarkan penerbitnya, jenis obligasi berdasarkan penerbitnya adalah:

  • Corporate Bonds

Jenis obligasi ini diterbitkan oleh perusahaan tertentu, seperti diterbitkan oleh pemerintah melalui BUMN (Badan Usaha Milik Negara) ataupun perusahaan swasta dengan masa jatuh tempo minimal 1 tahun. Seperti misalnya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang menerbitkan obligasi senilai Rp 2 Triliun pada tahun 2014 dengan tingkat bunga tetap (fix coupon) yang berjangka 5 tahun.

  • Government Bonds

Jenis obligasi ini diterbitkan oleh pemerintah. Obligasi ini pertama kali diterbitkan pada Agustus 2006. Obligasi milik pemerintah Indonesia dibagi lagi menjadi beberapa jenis, mulai dari Obligasi Negara Ritel Indonesia (ORI), Sukuk Negara Tabungan (ST), Sukuk Ritel (SukRi), dan Saving Bond Ritel (SBR).

  • Municipal Bonds

Selanjutnya adalah obligasi yang diterbitkan masih oleh pemerintah, namun dikeluarkan oleh pemerintah daerah dengan tujuan untuk membiayai pembangunan di daerah yang berhubungan dengan kepentingan masyarakat di daerah tersebut.

3. Jenis Obligasi Berdasarkan Sistem Pembayaran Bunga

Berdasarkan sistem pembayaran bunga, obligasi juga terbagi menjadi beberapa jenis. Jenis-jenis obligasi berdasarkan sistem pembayaran bunga tersebut adalah:

  • Zero Coupon Bond

Zero Coupon Bond adalah jenis obligasi atau surat utak yang tidak ada bunga dan tidak memberikan kupon secara berkala. Biasanya, setiap investor bisa mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dan nilai awal saat surat utang diperjualbelikan. Jatuh tempo pada jenis obligasi juga beragam, dari yang di bawah satu tahun hingga jatuh tempo di atas 10 tahun. Sesuai kesepakatan antara penerbit obligasi dan pemegang obligasi.

  • Obligasi Kupon/Bunga

Selanjutnya obligasi kupon atau obligasi bunga. Yaitu jenis obligasi yang memberikan bunga secara berkala kepada investor. Kemudian, hasil dari bunga mewakili nominal tertentu sesuai kesepakatan yang dicapai antara penerbit obligasi dan investor atau pemegang obligasi.

  • Obligasi Bunga Tetap

Obligasi jenis ini memberikan bunga dengan angka yang tetap. Mulai dari awal obligasi hingga jatuh tempo obligasi berakhir. Jenis obligasi ini cenderung memiliki risiko yang rendah.

  • Obligasi Bunga Mengambang

Terakhir jenis obligasi dengan bunga mengambang, atau juga dikenal dengan nama Obligasi Floating Coupon. Obligasi yang menawarkan bunga yang bisa berubah besarannya, mengikuti indeks pasar uang. Kupon batas minimal berarti kupon pertama yang ditetapkan akan menjadi besaran kupon minimal yang berlaku hingga jatuh tempo obligasi berakhir.

4. Jenis Obligasi Berdasarkan Imbal Hasil

Terdapat juga jenis obligasi berdasarkan imbal hasil, di Indonesia terdapat dua jenis obligasi berdasarkan imbal hasil, yaitu:

  • Obligasi Konvensional

Obligasi atau surat utang yang diterbitkan oleh pihak-pihak terkait agar bisa mendapatkan pinjaman sebagai bentuk tambahan modal dengan bunga (imbal hasil) kepada pihak investor dalam jangka waktu tertentu. Obligasi ini merupakan jenis yang paling umum dilakukan di Indonesia.

  • Obligasi Syariah (Sukuk)

Jenis obligasi berdasarkan imbal hasil kedua adalah obligasi syariah atau sukuk. Merupakan obligasi yang memberikan imbal hasil berupa uang sewa yang perhitungannya berdasarkan prinsip dari syariat Islam dan juga tidak mengandung unsur riba. Selain itu, imbal hasil sukuk juga dibayarkan secara berkala dalam periode tertentu yang telah disepakati. Banyak para investor dan pebisnis yang sangat Islami menggunakan jenis obligasi ini. Karena, agar mereka tetap bisa berinvestasi, tanpa harus khawatir riba yang dilarang dalam Islam.

5. Jenis Obligasi Konversi

Selain beberapa jenis obligasi yang telah dijelaskan di atas, terdapat juga beberapa jenis dari obligasi konversi. Seperti yang kita ketahui, bahwa  obligasi saham adalah pengertian lain dari obligasi konversi. Apa itu obligasi konversi? Obligasi yang bisa dikonversi atau dialihkan menjadi saham, sesuai dengan kesepakatan yang ditentukan.

Dalam investasi obligasi adalah penting membicarakan kesepakatan, termasuk juga hak dan kewajiban, juga batasan serta larangan. Dalam obligasi konversi juga terdapat jenis-jenisnya. Berikut ini daftar jenis-jenis obligasi konversi berikut dengan penjelasannya:

  • Vanilla Convertible Bonds

Jenis obligasi konversi pertama ini merupakan yang paling sering ditemui. Obligasi jenis ini juga dikenal dengan nama Obligasi vanili. Obligasi ini dapat memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversi obligasinya menjadi sejumlah saham, sesuai dengan kesepakatan di awal kontrak.

Namun, jenis obligasi ini tetap membayarkan bunga selama masa berlaku obligasi hingga jatuh tempo. Pada saat jatuh tempo obligasi, pemegang obligasi berhak atas nilai nominal obligasi yang dapat dialihkan menjadi saham.

  • Mandatory Convertible

Jenis obligasi yang kedua adalah mandatory convertible atau dikenal juga dengan nama obligasi wajib. Obligasi ini mewajibkan investor untuk mengubah obligasi yang dimiliki menjadi saham pada saat jatuh tempo. Sebagaimana yang kita ketahui, dalam investasi obligasi adalah wajib membicarakan kesepakatan.

Perubahan obligasi menjadi saham pada saat jatuh tempo harus dibicarakan pada saat awal kontrak obligasi dan juga harus disepakati bersama. Karena nantinya, saham obligasi adalah nilai dari obligasi yang dikonversikan. Jika pada obligasi vanili, konversi obligasi ke saham merupakan pilihan, dama obligasi wajib, konversi merupakan sebuah keharusan/kewajiban.

Obligasi ini juga tetap memberikan imbal hasil tinggi dan juga menggiurkan. Bagi yang ingin investasi jangka pendek, jenis obligasi ini cocok untuk dicoba.

  • Reverse Convertible

Berbeda dari dua jenis obligasi sebelumnya, obligasi ini memberikan penerbit obligasi pilihan untuk membeli kembali obligasi secara tunai atau melakukan konversi ke ekuitas. Tentu saja, sebelum itu, harga dan kurs konversi telah ditentukan pada saat jatuh tempo obligasi terjadi. Karena harga obligasi adalah hal yang penting, yang wajib diutamakan untuk dibicarakan dan disepakati.

  • Exchange Convertible

Obligasi jenis ini dikenal juga dengan nama obligasi tukar yang merupakan obligasi konversi di mana saham yang menjadi aset dasar merupakan saham dari perusahaan berbeda. Saham yang kita miliki, bisa kita tukar menjadi saham obligasi merupakan saham dari perusahaan lain, bukan saham yang dimiliki oleh penerbit obligasi.

  • Obligasi Konversi Bersyarat

Jenis obligasi konversi memiliki beberapa syarat tertentu untuk investor dan wajib untuk disepakati. Terutama bagi investor yang ingin konversi obligasi menjadi saham. Biasanya, persyaratannya adalah investor bisa menukar obligasi menjadi saham jika harga saham yang berlaku di pasar modal telah mencapai persentase tertentu.

Setelah mengetahui jenis-jenis obligasi, pengertiannya, dan cara kerja dan juga karakteristiknya. Mari kita lanjut ke pembahasan berikutnya, yaitu terkait contoh-contoh obligasi itu sendiri.

Contoh Obligasi

Berikut ini beberapa contoh obligasi yang ada atau pernah terjadi di Indonesia, yaitu:

  • Obligasi perusahaan yang diterbitkan oleh perusahaan swasta nasional seperti BUMN
  • Surat Utang Negara (SUN) merupakan contoh obligasi.
  • Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), Obligasi ini diterbitkan oleh negara atau pemerintah, yang didasarkan pada prinsip dan syariat agama Islam.
  • Surat Berharga Negara yang diterbitkan pemerintah melalui Obligasi Ritel Indonesia (ORI) adalah contoh dari obligasi lainnya.
  • Terdapat contoh obligasi lainnya, yang dikeluarkan oleh perusahaan atau bank:
  • Obligasi Subordinasi Bank Capital I Tahun 2014
  • Obligasi I Kereta Api Indonesia Seri A Tahun 2017
  • Obligasi II Oto Multiartha Seri B Tahun 2018
  • Obligasi AB Sinarmas Multifinance I Tahun 2020

Perbedaan Obligasi dan Saham

Setelah mengetahui cara kerja, jenis-jenis dan juga contoh obligasi di atas, pertanyaan yang sering muncul lainnya adalah apa perbedaan saham dan obligasi? Perbedaan saham dan obligasi adalah terletak pada hak atas keuntungan dan hak suara. Pemilik saham berhak atas keuntungan perusahaan dan juga memiliki hal suara. Sementara pemilik obligasi tidak, hanya memberikan piutang saja. Hal tersebut karena perbedaan antara saham dan obligasi adalah terletak pada kedua hal tersebut.

Untuk lebih memudahkan memahami perbedaan obligasi dan saham, berikut ini daftar perbedaan dari obligasi dan saham itu sendiri:

  • Pemilik saham tidak terbatas waktu tertentu, sementara obligasi ada jangka waktu dan jatuh tempo.
  • Besar keuntungan yang dapat diterima pemilik saham tidak dapat diperkirakan, sementara pemegang obligasi keuntungannya telah ditentukan berdasarkan kesepakatan kontrak.
  • Keuntungan dividen saham merupakan laba perusahaan setelah dipotong pajak, sementara dalam obligasi, pemegang obligasi dikenakan bunga secara bertahap pada masa berlangsungnya obligasi dan karena itu tidak terkena pajak.

nfp-live-trading

Tahapan Beli Obligasi

Pertanyaan selanjutnya, yang juga sering ditanyakan adalah tahapan membeli obligasi. Berikut ini langkah dan cara untuk membeli obligasi yang bisa kita lakukan:

  • Membuka rekening, mendapatkan informasi perkembangan dan perdagangan obligasi dari bank.
  • Pahami produk obligasi yang ada. Pilih yang dianjurkan untuk dipelajari
  • Lakukan analisis terhadap produk obligasi yang dimaksud. Pertimbangkan aspek seperti bunga, jangka waktu, nilai penerbitan dan peringkat obligasi itu sendiri.
  • Selanjutnya, setelah memilih jenis obligasi, kita memberikan amanat pembelian kepada trader atau broker obligasi yang telah kita pilih. Jangan lupa juga untuk mempelajari trader atau broker obligasi yang sesuai dengan kita.
  • Siapkan dana, biasanya satuan pembelian obligasi bernilai Rp 1 Miliar, namun ada juga senilai Rp 50 juta atau Rp 100 juta. Setelah dana disiapkan, lakukan pembayaran dan tunggu proses settlement atas transaksi yang dilakukan.

Keuntungan Obligasi

Pertanyaan yang juga tidak kalah sering ditanyakan adalah tentang untung rugi obligasi. Salah keuntungan obligasi adalah keuntungan yang diperoleh telah ditambahkan dengan nilai bunga yang telah disepakati.. Sementara itu, kerugian pemegang obligasi adalah uang yang telah diinvestasikan sangat berisiko tidak kembali, apabila perusahaan tidak sanggup membayar. Namun, biasanya perusahaan akan menjual aset yang dimiliki sebagai pertanggung-jawaban mereka.

Berikut ini beberapa keuntungan obligasi yang akan kita dapatkan secara umum:

  • Mampu memberikan penghasilan tetap berupa bunga secara rutin selama masa obligasi berlaku.
  • Kita sebagai pemegang obligasi juga dapat memperjualbelikan obligasi yang dimiliki untuk mendapatkan capital gain atau keuntungan dari penjual obligasi.

Pertanyaan Umum tentang Obligasi

Berikut ini merupakan daftar pertanyaan tentang obligasi lainnya yang paling banyak dicari dan ditanyakan oleh masyarakat dan juga warganet. Terutama bagi mereka yang memang tertarik untuk mencoba obligasi, sebagai bagian dari pengalaman berbisnis dan berinvestasi.

1. Investasi Obligasi Apakah Menguntungkan?

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, kita akan mendapatkan keuntungan obligasi dari kupon atau bunga yang telah disepakati selama jangka waktu obligasi berjalan. Keuntungan lainnya, yaitu kita bisa mendapatkan capital gain saat memperjualbelikan obligasi yang kita miliki.

2. Apa Risiko Investasi Obligasi?

Dalam dunia bisnis dan investasi, risiko selalu ada dan menjadi bagian penting untuk menguatkan mental bisnis dan investasi. Begitu juga dalam melakukan obligasi, selalu ada risiko yang harus siap kita terima. Berikut ini beberapa risiko dari obligasi yang biasa ditemui oleh para pelaku investasi obligasi:

  • Risiko likuiditas: risiko ini selalu melekat pada semua jenis obligasi. Risiko ini muncul dari kemungkinan tidak cairnya (likuid) suatu obligasi yang diperdagangkan, atau sulitnya menjual obligasi di pasar sekunder.
  • Risiko Maturitas: risiko ini muncul diakibatkan oleh jangka waktu jatuh tempo. Semakin lama jatuh tempo sebuah obligasi, semakin besar tingkat ketidakpastiannya, sehingga risiko maturitas semakin tinggi.
  • Risiko default: risiko ini hanya terjadi pada obligasi perusahaan/korporasi. Risiko ini terjadi akibat tidak adanya jaminan dari perusahaan/korporasi. Berbeda dengan obligasi pemerintah/negara yang memberi jaminan terhadap setiap obligasi yang diterbitkan.

3. Mana yang Lebih Menguntungkan, Obligasi atau Saham?

Keduanya tentu saja sama-sama menguntungkan, namun antara obligasi dan saham sama-sama memiliki keuntungan sendiri. Bagi yang telah memasuki masa pensiun dan membutuhkan dana lebih aman, tentu obligasi akan lebih menguntungkan ketimbang saham. Namun, jika kita masih mudah dan termasuk investor agresif, saham merupakan pilihan terbaik. Karena, saham bisa memberikan hasil yang lebih tinggi dan menggiurkan dibandingkan obligasi.

Itulah penjelasan terkait obligasi beserta segala hal yang sering ditanyakan dan dicari oleh masyarakat dan para pelaku bisnis. Satu hal yang perlu kita ingat adalah tidak ada yang benar-benar pasti dalam dunia bisnis dan investasi. Ada investasi seperti forex yang bisa menghasilkan keuntungan besar namun memiliki risiko tinggi yang jika Anda pelajari di GIC Academy, Anda bisa loh, menjadi trader yang menghasilkan pendapatan jutaan rupiah.

Adanya kesepakatan, perhitungan yang jelas, serta jatuh tempo waktu yang bisa diukur, merupakan sebuah keuntungan dari obligasi yang bisa kita manfaatkan. Mencoba obligasi untuk memperluas pengetahuan dan memperbanyak pengalaman merupakan sebuah kesempatan emas yang tidak bisa didapatkan oleh semua orang. Jadi, jangan sekali-kali ragu ketika memutuskan untuk membeli obligasi.

GIC Forex Academy

Lebih baik mana? Obligasi, saham, atau forex?

Memilih investasi baik itu obligasi, saham, atau forex, semua keputusan ada di tangan Anda. Jika Anda lebih memilih obligasi, mulailah dari membuka rekening, lalu dapatkan informasi perkembangan dan perdagangan obligasi dari bank. Namun jika ingin berinvestasi dengan menghasilkan keuntungan yang besar, Anda bisa memilih forex. 

Jangan khawatir jika Anda pemula, GIC adalah solusi untuk kebutuhan semua trading forex Anda. Apa kelebihan trading di GIC? Bagi pengguna baru ada bonus deposit cashback 100% sampai dengan 10.000 GICT atau setara dengan Rp148.110.000. Selain itu, bagi Anda yang belum memiliki modal trading ada kuis Jum’at Barokah.  Hanya dengan menebak harga gold yang diadakan setiap Jum’at, Anda bisa mendapatkan hadiah senilai Rp2.000.000. Menangkan hadiahnya, manfaatkan untuk dana trading Anda.

Tunggu apalagi? Makin lengkap fitur yang mendukung penuh Anda untuk memulai investasi dan trading forex melalui GIC. Jadikan transaksi lebih simpel, aman, dan menguntungkan. Mulailah dengan membuat akun demo.

Reza Pratama
Seseorang yang kebetulan memiliki hobi menulis tentang seputar film, game, dan teknologi.