Investor: Pengertian, Jenis, Cara Kerja, dan Karakteristik

Artikel ini terakhir di perbaharui September 3, 2021 by Yuliati Iswandiari
Investor: Pengertian, Jenis, Cara Kerja, dan Karakteristik

Bisa menjadi seorang investor adalah mimpi dari sebagian orang yang memang mempunyai ketertarikan dengan dunia investasi. Investasi adalah kegiatan menanam modal dalam beberapa bentuk demi untuk mendapatkan keuntungan di masa depan.

Karena tidak mudah untuk bisa menjadi seorang investor yang bisa berakhir dengan menuai kesuksesan, rasanya Anda perlu memahami semua hal tentang investor dengan lebih lanjut. Dengan demikian, Anda bisa lebih yakin apakah menjadi seorang investor adalah salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk menjadi sukses.

Jika Anda memang sudah tertarik dengan dunia investasi, ada baiknya Anda membaca ulasan mengenai investor secara menyeluruh. Berikut adalah informasi lengkap mengenai apa itu investor dan bagaimana cara menjadi investor. 

Pengertian Investor Secara Umum

Apa itu investor? Secara singkat, semua orang bisa mengatakan bahwa investor adalah orang yang menanam modal ke dalam rencana-rencana keuangan dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Bisa dikatakan, investor adalah penanam modal yang memasukkan uang mereka untuk mendapatkan tingkat keuntungan tertentu. Jika mereka menjadi seorang investor pada perusahaan, mereka akan mendapat saham perusahaan di tempatnya menanam modal.

Beberapa ahli pun turut menyampaikan sudut pandang mereka mengenai apa itu investor saham, apa yang biasanya mereka lakukan, dan tujuan mereka melakukan hal tersebut. Berikut adalah pengertian para investor menurut para ahli.

  1. Nasarudin & Surya (2004) menyampaikan bahwa investor adalah pihak perorangan maupun lembaga yang bisa berasal dari dalam maupun luar negeri yang melakukan kegiatan berinvestasi dalam jangka waktu yang bisa bersifat panjang dan juga pendek.
  2. Kasmir & Jakfar (2012) juga memiliki investor meaning mereka sendiri. Menurut mereka, investor adalah pemegang saham atau penanam modal yang melakukan investasi dalam periode yang relatif panjang dalam berbagai bidang usaha. Dalam kata lain, investasi yang dilakukan tidak dalam lingkup bisnis yang kecil melainkan bisnis yang luas. Penanaman modal ini bisa juga berupa proyek yang sifatnya fisik atau non fisik. Contoh investor dalam hal ini bisa berupa penanam modal untuk pembangunan gedung, proyek penelitian, pembangunan jembatan, atau pengembangan jalan.
  3. Sadono Sukirno (2008) mengemukakan bahwa investor adalah orang yang melakukan kegiatan penanaman modal, pengeluaran, atau pembelanjaan pada suatu perusahaan untuk meningkatkan kemampuan atau tingkat produksi yang dimiliki perusahaan tersebut. Dengan demikian, perusahaan tersebut mampu memproduksi barang dan jasa yang kebutuhannya semakin meningkat.

Meskipun beberapa tokoh di atas menyampaikan tafsir atau pemahaman mengenai investor yang berbeda-beda, namun secara umum mereka memiliki maksud yang sama. Mereka beranggapan bahwa investor adalah orang yang menanam modal atau berinvestasi untuk bisa memperoleh profit dalam jangka waktu yang panjang.

Sayangnya, seorang investor akan berbeda dengan investor lainnya. Meskipun mengusung title ‘investor’ ternyata tidak semua investor itu sama. Sama halnya seperti angel investor. Angel investor adalah seorang individu yang mempunyai kekayaan yang tidak terbatas yang secara sukarela diberikan kepada perusahaan startup

Biasanya angel investor adalah sahabat, keluarga, atau teman terdekat yang memang ingin membantu perusahaan Anda. Mereka akan memberikan bantuan modal satu kali dan biasanya pada saat-saat sulit yang sedang Anda lalui saja. Ada pula pengelompokkan macam-macam investor, seperti di bawah ini. 

Jenis Investor Berdasarkan Jumlah dan Risiko yang Diambil

Menjadi seorang investor nyatanya juga harus berhadapan dengan risiko entah kehilangan semua uangnya, mengalami kerugian besar, atau justru mengalami keuntungan yang berlipat ganda. Sama seperti sebuah idiom yang berbunyi high risk, high return, jika Anda berani mengambil risiko yang tinggi, Anda bisa mendapatkan imbal balik atau return yang tinggi pula. 

Sayangnya, tidak semua orang berani mengambil langkah besar dalam berinvestasi dalam jumlah yang besar mengingat tugas investor yang memerlukan usaha, pengalaman, dan juga ketelitian. Untuk membedakan jenis investor, istilah investor itu sendiri dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan jumlah dan risiko investasi yang diambil. 

1. Tipe konservatif (Risk Averse) 

Jenis investor ini adalah jenis investor dengan profil risiko yang paling rendah demi untuk bisa menghindari risiko atas berkurangnya nilai investasi utama. Investor tipe konservatif biasanya adalah investor yang baru saja tertarik untuk terjun ke dunia investasi. Menjadi seorang investor tipe konservatif berarti Anda hanya menanam modal yang tidak terlalu besar. Selain itu, investor tipe ini memilih instrumen investasi yang aman meskipun hasil imbal balik tidak terlalu besar. 

Meskipun nilai imbal balik tidak terlalu besar, para investor bisa mendapatkan keuntungan yang stabil. Bagaimana cara menyiasatinya? Dengan menjadi seorang investor jangka panjang untuk bisa mencapai jumlah yang besar yang bisa dilakukan oleh investor tipe ini untuk bisa mencapai apa yang diinginkan. 

Biasanya, investor tipe konservatif ini memilih beberapa instrumen investasi seperti deposito, emas, dan reksadana pasar uang. Reksadana pasar uang terbilang sangat cocok dengan karakteristik investor tipe konservatif karena risiko yang dimiliki oleh reksadana pasar uang sangat rendah. Selain itu, Anda juga bisa berinvestasi dalam jangka pendek dan Anda tidak perlu khawatir dengan kondisi harga yang berubah-ubah di pasar modal. 

2. Tipe moderat (Menengah)

Tipe kedua dari investor berdasarkan jumlah dan risiko yang diambil adalah investor tipe moderat atau tipe menengah. Sesuai namanya, investor tipe ini  berada dalam level sedang atau menengah. 

Artinya, tipe investor ini mau menerima adanya risiko kerugian jangka pendek dan ia juga sudah menargetkan untuk meraup keuntungan yang lebih tinggi dari tingkat inflasi atau pun bunga deposito. 

Investor ini biasanya merencanakan tujuan finansial dalam jangka menengah meskipun belum terlalu berani mengambil risiko. Contoh investasi yang cocok untuk investor tipe moderat adalah reksadana pendapatan tetap dan juga reksadana campuran. 

3. Tipe agresif (Risk Taker) 

Terakhir adalah tipe investor yang memiliki profil risiko yang sangat tinggi yaitu tipe agresif. Investor tipe agresif adalah para penanam saham atau modal yang bersifat agresif dalam melakukan kegiatannya. Mereka biasanya adalah orang-orang yang sudah berpengalaman di bidangnya. Mereka tahu betul apa saja risiko yang akan mereka hadapi dan mereka berani mengambil risiko tersebut. 

Tipe investor ini sudah terbiasa menghadapi naik turunnya harga pasar modal yang tidak menentu bahkan ke dalam tahap yang paling extreme sekali pun. Bahkan meskipun sudah mengetahui risiko tinggi di depan mata sekali pun, mereka tidak takut menaruh modal pada instrumen investasi dalam jumlah yang tinggi. Beberapa contoh investasi untuk investor tipe agresif adalah trading saham, forex, reksadana saham, maupun properti. 

Bagi Anda seorang investor tipe agresif atau risk maker, GIC adalah tempat yang tepat untuk berinvestasi, dengan deposit minimal Rp2.000.000, Anda sudah bisa trading dengan profit sehari Rp100.000 loh! Hanya di GIC, Anda juga bisa menjadi market maker dengan deposit Rp75.000.000.

Deposit Cashback 100%

Karakteristik Investor

Dalam menekuni dunia investasi, semua orang pasti akan berharap untuk bisa menjadi seorang investor sukses yang bisa meraup banyak keuntungan. Bisa dibilang, tidak semua orang yang mampu menanamkan modal dalam jumlah tak terhingga layak untuk menjadi seorang investor jika mereka tidak memiliki karakteristik seorang investor. Berikut adalah karakteristik investor yang perlu Anda ketahui lebih lanjut.

1. Bisa berpikir rasional

Menjadi seorang investor saham adalah sebuah harapan bagi hampir semua orang. Sayangnya, untuk menjadi seorang investor dibutuhkan karakter di mana ia bisa berpikir secara rasional. Ketika menghadapi masalah atau kerugian dari modal yang ditanamkan, mereka harus tetap bisa berpikir rasional dan tidak gegabah dalam mengambil langkah selanjutnya.

Hal ini dikarenakan ketika Anda salah mengambil langkah hanya karena emosi sesaat atau terburu-buru, Anda akan semakin menambah kerugian. Oleh sebab itu, karakter seorang investor yang utama adalah bisa menghindari tindakan agresif dan mulai mengembangkan sifat yang positif.

Ketika menghadapi masalah, seorang investor harus bisa berpikir dengan bijaksana untuk bisa membuat keputusan yang meskipun tidak bisa menutup semua kerugian setidaknya bisa mengurangi jumlah kerugian Anda yang sangat banyak.

2. Berfokus pada tujuan

Untuk bisa tetap menjaga nilai investasi Anda tetap sukses, Anda memerlukan perspektif jangka panjang. Hal ini tidak hanya mengacu pada keuntungan jangka pendek melainkan Anda harus berfokus pada tujuan jangka panjang Anda. Misalnya, Anda harus mempersiapkan dana pendidikan anak Anda, dana untuk membeli rumah, dana pensiun, dan pengeluaran lain yang akan muncul dalam beberapa tahun ke depan.

Terkadang ketika menghadapi ujian, banyak orang seringkali lengah dan lupa pada tujuan utama mereka melakukan investasi. Hasilnya, mereka justru kehilangan keuntungan yang bisa mereka pergunakan di masa depan. Berfokus pada tujuan bisa juga diartikan dengan menentukan produk yang sesuai dengan tujuan.

Misalnya, ketika Anda memutuskan untuk melakukan investasi jangka pendek mulai dari 6 bulan sampai 2 tahun, tentu menanamkan modal pada saham tidaklah tepat.

3. Memiliki kepercayaan diri

Banyak orang tidak ingin terjun ke dunia investasi karena mungkin mereka berpikir bahwa hal itu tidaklah sesuai dengan bidang yang diminati. Mereka perlu mempelajari hal-hal baru dan tidak ada jaminan kesuksesan yang pasti. Jenis pemikiran seperti inilah yang menghambat seseorang untuk berani mencicipi dunia investasi. Padahal dalam kegiatan bisnis mana pun, kegagalan dan kesuksesan selalu berjalan beriringan.

Salah satu cara menjadi investor adalah memiliki rasa kepercayaan diri, mau belajar hal-hal baru, dan belajar dari kesalahan. Dengan demikian, Anda akan bisa menekuni dunia investasi dan layak menjadi seorang investor yang handal.

Bedanya Investor Institusi dan Investor Individu

Sebelumnya, kita sudah membahas adanya ketiga jenis investor berdasarkan jumlah dan risiko yang diambilnya. Ternyata ada juga pengelompokkan investor atau penanam modal, yaitu investor institusi dan juga investor ritel. Apakah perbedaan kedua jenis investor ini?

Investor institusi adalah orang ataupun organisasi non-bank yang menanamkan modal atau berinvestasi dalam saham atau instrumen investasi lainnya dalam jumlah yang besar. Tidak jarang investor institusi mengumpulkan uang dari beberapa penanam modal kecil dan mengakumulasinya untuk bisa mengambil investasi dengan jumlah nominal yang jauh lebih besar.

Karena terdiri dari akumulasi penanam modal atau investor kecil, investor institusi ini memiliki dampak dan pengaruh yang jauh lebih kuat dan besar dibandingkan investor perorangan atau individu. Contoh pilihan investasi yang cocok untuk investor institusi adalah dana pensiun, reksadana, dan juga dana lindung nilai.

Sebaliknya, investor ritel adalah individu-individu yang menggunakan nama mereka sendiri atau perwalian untuk mewakili individu tersebut dalam berinvestasi. Ada juga yang mengartikan investor ritel sebagai seorang individu yang memperjualbelikan saham atau obligasi melalui rekening mereka sendiri para perusahaan sekuritas.

Terkadang orang-orang sudah terlanjur memberikan label negatif pada investor ritel. Selain karena orang-orang di baliknya yang minim pengetahuan, mereka biasanya kurang melakukan riset, kurang pengalaman, dan juga melakukan kegiatan investasi yang kurang rapi atau berantakan. Padahal sesungguhnya banyak investor ritel yang bisa meniru sisi profesional dari investor institusi. 

Cara Kerja Investor

Ketika sebagian orang mendengar kata investor, mungkin mereka hanya akan berpikir bahwa mereka hanya menanam modal dan meraih keuntungan layaknya menyimpan uang pada bank. Pada kenyataannya, sebuah investasi tidak bisa 100% menjanjikan keuntungan investor karena ada risiko, jangka waktu, modal, preferensi terhadap jumlah dana yang ingin ditanamkan.

Menjadi investor berarti bahwa Anda harus sangat berhati-hati dalam memilih investasi tepat mana yang harus Anda pilih. Selain itu, apakah pilihan investasi mereka cocok untuk jangka panjang atau jangka pendek.

Perkembangan Investor Indonesia

Karena pandemi yang belum berakhir hingga saat ini, banyak orang mulai beralih untuk terjun ke dunia investasi. Dengan menekuni investasi meskipun dalam jumlah yang tidak banyak, mereka bisa memperoleh jaminan masa depan dalam kondisi yang tidak menentu.

Di Indonesia pada kuartal pertama di tahun 2021, jumlah investor meningkat sebanyak 4,3% dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Untuk nilai investasi itu sendiri di sektor perumahan dan industri perkantoran adalah 29,4 triliun, transportasi dan telekomunikasi sebesar 27,9 triliun. Untuk industri logam, dasar, barang logam, mesin dan peralatan senilai 25,6 triliun. Untuk industri makanan hanya sebesar 21,8 triliun sedangkan untuk listrik, gas, dan air sebesar 20,2 triliun.

Singapura adalah negara yang memberikan investasi langsung terbesar pada tahun ini. Secara keseluruhan, nilai investasi yang diberikan dari Singapura mencapai US$ 2,6 miliar.

Lalu, Apa Saja Keuntungan Menjadi Seorang Investor?

Menjadi seorang investor dalam negeri atau investor asing pastinya membutuhkan jumlah uang yang tidak sedikit. Karena mereka adalah penanam modal yang melakukan pembelian saham, aset, properti, ataupun jenis aset yang lainnya, tentunya ada segudang keuntungan yang bisa diperoleh dengan menjadi seorang investor.

  1. Seorang investor akan bisa lebih mempersiapkan kenaikan biaya hidup yang tidak terencana dengan jauh lebih baik. Dengan berbagai keuntungan yang didapatkan oleh seorang investor, Anda bisa merencanakan masa depan Anda, waktu pensiun Anda, dan bahkan aset yang bisa Anda huni atau jual pada waktu yang tepat.
  2. Dengan memilih terjun ke dunia investasi, Anda bisa membuat uang yang bekerja untuk Anda dan menghasilkan lebih banyak uang. Kita bisa mengambil contoh Buffet yang hanya butuh uang sebesar USD 40 atau setara dengan Rp532.000 pada saat kurs per USD Rp13.300. Investasi terus berkembang dan pada tahun 2015, nilai investasinya sudah meroket hingga USD 5 juta atau setara dengan Rp66,5 miliar. Ia berhasil membuktikan bahwa uanglah yang bekerja untuk dirinya dan bukan sebaliknya.
  3. Menjadi seorang investor pastinya akan memberikan keuntungan atas kepemilikan saham. Karena fungsi investor adalah sebagai penanam modal, pasti perusahaan akan memberikan bagian sesuai dengan jumlah modal yang diberikan. Untuk jangka waktu tertentu, modal ini bisa memiliki kemungkinan untuk meningkat dan memberikan keuntungan yang bisa digunakan untuk ekspansi bisnis dan meningkatkan keuntungan yang lain.

Kesimpulan

Seorang investor adalah seseorang atau sebuah organisasi yang memberikan penanaman modal atau berinvestasi pada aset, obligasi, properti, ataupun berbagai jenis investasi yang lain. Terlepas dari berbagai tugas dan keuntungan menjadi seorang investor daily, mereka juga harus berurusan dengan jumlah dan risiko yang harus mereka hadapi. Tidak hanya itu, dibutuhkan juga beberapa karakteristik untuk bisa menjadi seorang investor yang layak. 

Reza Pratama
Seseorang yang kebetulan memiliki hobi menulis tentang seputar film, game, dan teknologi.