Saham Asia Stabil, Dolar Melemah Akibat Para Trader

Artikel ini terakhir di perbaharui December 29, 2021 by Akhmad Zico Fadlansyah
Saham Asia Stabil, Dolar Melemah Akibat Para Trader
sumber oleh vkstudio cia freepick

Saham Asia mulai stabil pada hari Senin menjelang Minggu yang dikemas dengan pengumuman pendapatan kuartal utama. Sementara dolar berada pada posisi terendah di bulan Oktober setelah tiga minggu dikarenakan para trader yang menunggu pendapatan mereka sehingga menjadikan mata uang tidak pada level yang aman.

HSBC dan Facebook keduanya akan mempublikasikan hasil kuartalan pada hari Senin, masing-masing berada di perdagangan Asia dan akhir jam AS. Selanjutnya dalam minggu ini akan menjadi giliran benchmark kelas berat lainnya termasuk Microsoft yang merupakan teknologi terbesar, Apple, dan juga Alphabet. Serta keuangan terbesar seperti negara Eropa dan Asia dari Deutsche Bank dan Lloyds ke China Construction Bank dan Nomura.

“Penghasilan minggu ini menjadi pusat perhatian” Kata Chris Weston, kepala penelitian di broker Pepperstone di Melbourne pada catatan paginya.

Hasilnnya akan diawasi ketat setelah awal yang kuat untuk musim pendapatan AS bagi banyak perusahaan, terutama keuangan yang membantu Dow Jones Industrial Average dan S&P 500 yang menyentuh rekor tertinggi pada minggu lalu. Meskipun Nasdaq jatuh pada hari Jumat setelah Snap dan Intel Corp. Hasil kuartalan ini merupakan hasil yang bisa dibilang mengecewakan.

Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang juga telah membukukan kenaikan dalam tiga minggu terakhir, yang jika dapat dipertahankan minggu ini, maka akan menjadikan Oktober sebagai bulan terbaik sebagai patokan pada tahun 2022.

Pada Senin pagi, patokan regional datar dengan kenaikan 0.5% di Australia diimbangi dengan penurunan 0.6% di Korea. Nikkei Jepang kehilangan 1% dan kontrak berjangka S&P 500 AS turun 0.18%. Sedangkan saham Asia sebagian besar tertinggal dari rekan-rekan mereka di AS dan Eropa dalam beberapa bulan terakhir terutama karena gangguan regulasi dan kekhawatiran perlambatan pertumbuhan di China.

Dalam pengumuman terbaru yang mengkhawatirkan beberapa investor, badan pembuat keputusan utama parlemen China mengatakan pada hari Sabtu akan meluncurkan pajak percontohan real estate di beberapa daerah.

Analis di Citi menyimpulkan pengumuman itu sebagai “Uji coba yang lebih awal dari yang diharapkan. Tetapi lebih lambat dari peluncuran nasional yang diharapkan. Namun, uji coba ini tidak mempunyai dampak yang dapat menghancurkan”

Akan tetapi, suasana ramah risiko yang mendukung ekuitas telah membebani mata uang safe-haven, seperti halnya kenaikan harga energi yang mendukung mata uang seperti dolar Aussie dan Kanada.

Indeks dolar terakhir di 93.667 , jatuh di dekat level terendah pada 93.455 yang mencapai minggu lalu, yang jauh dari level tertinggi selama 12 bulan pada pertengahan Oktober. Namun, analis di CBA mengatakan lebih mungkin dolar akan naik daripada turun pada kalimatnya.

“Risiko dolar tetap condong ke atas” Tulis mereka dalam catatan yang mengutip peningkatan ekspektasi inflasi dari pasar, konsumen dan pembuat kebijakan, yang berarti pasar menilai program kenaikan suku bunga yang lebih agresif sehingga akan mendukung kenaikan dolar.

Pasar masih berusaha memposisikan diri untuk program stimulus AS yang diharapkan secara luas tahun ini dengan kemungkinan kenaikan suku bunga pada akhir tahun 2022.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada hari Jumat mengatakan bahwa bank sentral AS harus memulai proses mengurangi dukungannya terhadap ekonomi dengan mengurangi pembelian asetnya, tetapi sampai menyentuh suku bunga.

Saat penurunan mulai terlihat, imbal hasil acuan AS telah meningkat dan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun mencapai level tertinggi pada lima bulan di 1.7064% minggu lalu. Di awal Asia, data terakhir mereka berada pada 1.6465%.

Harga minyak tetap tinggi namun hanya dari puncak beberapa tahun baru-baru ini Minyak mentah Brent (LCOc1) yang naik 0.13% menjadi $85.65 per barel. Sementara minyak mentah AS naik sebesar 0.38% menjadi $84.08 per barelnya. Sedangkan spot gold naik sebesar 0.06% menjadi $1793.4 per ounce setelah membukukan kenaikan selama dua minggu terakhir di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi. Untuk bitcoin, sebagai aset lain ynag sering digambarkan sebagai nilai lindung inflasi, memiliki data terakhir di $61.080 setelah minggu yang bergejolak ketika mencapai level tertinggi baru pada $67.016.

Demikian penjelasan berita “Saham Asia Stabil, Dolar Melemah Akibat Para Trader”dari GICTrade. Baca juga berita dan artikel lainnya mengenai perbankan, ekonomi dan forex di Jurnal GIC. Jangan ketinggalan juga dapatkan bonus GICT dengan mengikuti jumat barokah dan 100% deposit bonus.

Wachda Mihmii
SEO writer who is experienced in various Indonesian national media. Aspiring to be a book or novel writer. Has experience as a Creative Director.

Daftarkan Diri Anda Sekarang


Setelah melakukan pendaftaran anda akan diberikan video workshop dari Trader Profesional Kami