Resesi Ekonomi: Penyebab, Dampak & Cara Menyikapinya

Artikel ini terakhir di perbaharui May 24, 2021 by Akhmad Zico Fadlansyah
Resesi Ekonomi: Penyebab, Dampak & Cara Menyikapinya

National Bureau of Economic Research (NBER) mendefinisikan resesi sebagai situasi di mana terjadi penurunan kegiatan ekonomi secara signifikan dan berlangsung dalam beberapa bulan secara terus-menerus. Ketika resesi muncul, pertumbuhan ekonomi sebuah negara bisa jatuh hingga 0 persen atau minus jika berada dalam kondisi buruk.

Ini mengakibatkan terjadinya penurunan pada lima indikator ekonomi, yakni Produk Domestik Bruto (PDB), pendapatan, pekerjaan, manufaktur, dan penjualan ritel. Kondisi yang juga disebut sebagai kelesuan ekonomi ini bisa terjadi di setiap negara, termasuk Indonesia.

Berdasarkan paparan yang pernah disampaikan oleh Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Endy Dwi Tjahjana, prospek ekonomi Indonesia di tahun 2020 berada di kisaran 5,1 hingga 5,5 persen terhadap PDB dengan inflasi sekitar 3,1 persen. Sementara, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani dalam berbagai pemberitaan terkini menyebutkan adanya wabah COVID-19 membuat ekonomi Indonesia mengalami kesulitan.

Penyebab Resesi Ekonomi

Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 sekitar 2,35 persen. Skenario terberatnya, yakni sekitar -0,4 persen. Sri Mulyani Indrawati menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya bergantung pada sejauh mana dampak wabah COVID-19 di dalam negeri. Jika dampak wabah semakin buruk, pemerintah mengkhawatirkan terjadinya resesi.

Selain wabah COVID-19, ada sumber lainnya yang bisa menyebabkan potensi resesi di Indonesia. Pertama, sektor perdagangan. Fenomena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok telah mempengaruhi seluruh negara di dunia. Di Indonesia, perang dagang antara dua negara besar tersebut membuat ekspor dari Indonesia menjadi ikut turun. Sementara di sisi lain, ekspor menjadi salah satu pendongkrak pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Kedua, sektor energi. Berdasarkan kajian Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan anjlok di tahun 2020. Hal ini membuat permintaan akan energi melambat. Ketiga, perlambatan ekonomi Tiongkok dimana pada kuartal III tahun 2019, ekonomi Tiongkok melambat hingga 6,2 persen.

Sumber keempat potensi resesi adalah lonjakan utang. Kajian INDEF juga menyebutkan rasio utang pemerintah terhadap PDB di sejumlah negara cenderung naik. Di Indonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani pada awal tahun 2020 menyebutkan rasio utang masih terjaga dalam kategori aman di bawah 30 persen, yakni 29,8 persen dari PDB.

Sementara negara lain, seperti Filipina, Singapura, hingga Jepang, rasio utang terhadap PDB lebih dari 30 persen hingga ada yang melebihi angka 50 persen. Sumber kelima adalah risiko sektor keuangan. Salah satunya dipicu oleh banyaknya obligasi Tiongkok dan potensi krisis AS. Yield obligasi jangka panjang lebih rendah dibandingkan yang jangka pendek.

Langkah Awal Mencegah Resesi

Resesi adalah kondisi yang bisa memengaruhi sejumlah aspek, salah satunya penurunan investasi. Turunnya investasi akan berdampak pada hilangnya lapangan pekerjaan yang kemudian memicu pemutusan hubungan kerja secara signifikan. Produksi barang atau jasa pun ikut merosot sehingga menurunkan PDB suatu negara.

Efek resesi ekonomi juga menjalar pada macetnya kredit perbankan, inflasi yang sulit dikontrol, hingga munculnya deflasi. Neraca perdagangan pun berpotensi minus dan mempengaruhi cadangan devisa. Daya beli dan bisnis di suatu negara juga ikut melemah.

Dengan kondisi global yang serba tidak pasti, ditambah adanya wabah Covid-19 yang melanda dunia, Indonesia perlu mewaspadai potensi resesi. Masih berdasarkan paparan INDEF, pemerintah harus menempuh langkah untuk mencegah resesi. Pertama, memperkuat stimulus fiskal dengan mempermudah pembebasan pajak dalam jangka waktu tertentu serta keringanan pajak. Langkah ini juga diharuskan melindungi perusahaan kelas menengah dan kecil.

Selanjutnya, memperketat pengawasan korporasi dan lembaga keuangan. Langkah ini penting untuk memastikan penekanan risiko gagal bayar. Stimulus untuk kelas menengah ke bawah diperlukan, seperti menaikkan Penghasilan Tidak Kena Pajak dan tidak menaikkan iuran-iuran tertentu. Hal ini agar kualitas konsumsi rumah tangga kelas menengah ke bawah tetap tumbuh dan terjaga. Apabila konsumsi tetap tumbuh, perekonomian juga ikut mengalami pertumbuhan.

Langkah berikutnya yang harus ditempuh pemerintah adalah meningkatkan stabilitas politik dan keamanan serta memperluas ekspor dengan meningkatkan promosi dan diversifikasi pasar. Pasar dalam negeri juga perlu dilindungi dengan cara memastikan produsen bisa menyediakan sebagian besar kebutuhan barang dan jasa domestik. Pemerintah juga dirasa perlu memperkuat ekonomi digital mengingat jangkauan pasar yang bersifat domestik dan tidak begitu terpengaruh dari tekanan global.

Cara Menghadapi Resesi

Lantas, bagaimana kita sebagai individu menyikapinya? Salah satunya melalui investasi. Ada sejumlah investasi yang stabil jika resesi terjadi yang dapat dipilih.

  • Investasi

Pertama, emas. Emas merupakan safe haven ketika ekonomi melambat. Saat inflasi naik, harga emas ikut naik. Investasi emas menawarkan kemudahan dalam pengelolaan, pencairan, hingga jual-beli. Kedua, Surat Berharga Negara (SBN) yang dikeluarkan oleh pemerintah. Nilai dan bunga dalam investasi SBN dijamin oleh pemerintah. Hal ini bisa menekan risiko investasi ke tingkat minimal.

Contoh produk SBN adalah Obligasi Negara Ritel (ORI), Saving Bond Retail (SBR), Suku Tabungan, dan Suku Ritel. Instrumen investasi itu bisa diakses masyarakat melalui agen, seperti perusahaan efek, fintech, hingga bank. Ketiga, deposito. Deposito juga bisa menjadi salah satu pilihan investasi. Sebab, saat resesi terjadi, deposito cenderung aman.

Keempat, investasi forex trading yang menyimpan potensi profit yang besar karena bergerak dua arah yaitu bisa buy atau sell. Sebagai salah satu bentuk investasi, forex trading memberikan kemudahan dalam pengelolaannya. Anda bisa mendapatkan keuntungan tanpa batas, fleksibelnya waktu untuk trading, hingga bisa dilakukan kapanpun. Ya, dengan platform GICTrade yang bisa digunakan via smartphone, Anda bisa melakukan investasi forex trading dengan jauh lebih mudah dan hanya membutuhkan modal Rp2 juta untuk mulai investasi. Menyenangkan, bukan?

Kelima, dolar AS. Mata uang negeri Paman Sam ini merupakan mata uang yang stabil dibanding mata uang negara lain di dunia. Itu mengingat AS juga merupakan negara ekonomi terbesar di dunia. Mata uang ini juga menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional. Bentuk investasinya bisa berupa deposito dolar atau reksadana pasar uang dolar.

  • Merencanakan Keuangan

Selain investasi, seseorang juga perlu memikir dana darurat. Saat negara mengalami resesi, dampaknya adalah pemutusan hubungan kerja (PHK), kebangkrutan bisnis pribadi, atau menurunnya pendapatan secara tajam. Dana darurat patut disiapkan untuk membiayai hidup saat resesi terjadi. Para pekerja juga perlu memperkuat profilnya di berbagai situs pencari kerja. Hal itu bisa ditempuh dengan meminta rekomendasi dari atasan di kantor.

Program pelatihan dan sertifikasi sesuai bidang pekerjaan juga bisa digeluti untuk mengembangkan kemampuan. Sementara bagi pelaku usaha, diversifikasi usaha menjadi penting untuk menghadapi resesi. Jika resesi muncul dan membuat satu jenis usaha bangkrut, masih ada jenis usaha lainnya yang bisa diperjuangkan. Perencanaan pelunasan utang turut menjadi upaya penting saat menghadapi risiko resesi.

Caranya dengan debt ladder atau debt snowball. Debt ladder memprioritaskan utang berdasarkan suku bunga. Sedangkan debt snowball menggunakan cara membayar hutang yang jumlahnya paling rendah. Dalam menghadapi potensi resesi, mengubah gaya hidup juga penting. Mulailah dengan mengesampingkan berbagai kebutuhan jangka pendek yang tidak perlu dan tidak mendesak, seperti mengganti motor atau mobil lama dengan membeli yang baru.

Resesi ekonomi adalah sebuah risiko yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan perlu diantisipasi. Dengan demikian, lebih baik dana-dana untuk kebutuhan semacam itu dialihkan ke sektor lain yang bisa menunjang kehidupan jangka panjang untuk menghadapi potensi resesi.

Kunjungi GIC Indonesia untuk mendapatkan informasi seputar dunia trading. Anda juga bisa bergabung bersama kami di dalam Telegram Community GIC Trade dan Telegram Channel GIC Trade. Jangan lupa check akun Youtube GIC Indonesia yang penuh dengan banyak informasi, serta follow akun Instagram Kami untuk mendapatkan informasi mengenai berbagai webinar menarik yang bisa Anda ikuti.

Desi Novitasari
Knowledge is like a garden, if not cultivated, it cannot be harvested.